the chef

Foto saya
yogyakarta, Indonesia
ehmmm....uhmmmm....erggghhh.....(rethinking)...

Senin, 26 Desember 2011

it's my life

Ketika saya membuka jejaring sosial milik saya,selalu mencermati setiap foto-foto yang diposting teman-teman saya. Penasaran mungkin. Saya ingin tahu apa yang teman-teman saya postingkan. Semakin lama saya mencermati, smakin terlihat banyak perubahan pada diri mereka. Ada yang berubah gaya berpakaiannya. Mengikuti fashion atau karena tuntutan profesi yang mereka geluti. Atau bisa jadi karena lingkungan mereka berada. Ada yang semakin cantik karena fasih berdandan..ada pula yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.


Sepertinya, mereka semakin banyak berubah. Terkadang membuat saya tidak mengenali mereka. Perubahan yang begitu drastis. Tapi bukan itu poin penting untuk diri saya. Hal tersebut membuat saya berfikir. Memikirkan diri saya, melihat diri saya, membuat saya semakin menyadari bahwa saya tidak melakukan perubahan secara fisik terhadap diri saya.


Saya masih sama seperti setahun yang lalu. Sama seperti beberapa tahun yang lalu. Masih suka memakai kaos oblong dan celana jeans plus sendal jepit. Masih saja ceplas-ceplos. Masih saja menjadi cewek cuek dan apatis. Dan yang paling parah masih saja enggak mau dandan dan enggak feminim (begitu kata sepupu saya).


Saya masih saja tetap enggak peduli makan dimana, mau dipinggir jalan maupun direstoran mewah. Mau makanan murah ataupun makanan mahal,bagi saya bukan permasalahan besar. Namun saya tetap merasa nyaman makan di warteg, angkringan, perko (emperan toko) dbandingkan restoran-restoran mahal. Karena saya merasa lebih membumi. Sama seperti orang-orang kebanyakan.


Saya, juga masih suka ngegembel. Traveling murah dan gak jelas. Menikmati perjalanan murah dan sedikit tidak nyaman,namun menyenangkan. Hal tersebut membuat saya banyak bertemu dengan berbagai macam orang dan berbagai macam profesi. Orang lain mungkin menikmati penghasilan mereka dengan cara-cara yang mewah, namun saya memilih.menikmati hidup ini dengan cara yang sederhana.


Benar, secara fisik saya masih membiarkan diri saya sama seperti dulu. Masih belum banyak perubahan yang saya lakukan. Namun, saya ingin selalu melakukan perubahan positif pada pribadi, fikiran dan spiritual saya. Ingin menjadi manusia yang sederhana dan membumi. Tidak lebih dan tidak kurang.


Published with Blogger-droid v2.0.2

Rabu, 07 Desember 2011

bring me to life

selasa, 8 november 2011

jam 8:57 malam

Ini adalah masalah cara pandang dan sikap hidup. cara individu memandang peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya dan mewujudkannya kedalam sikap-sikap hidup. Pengalaman hidup seseoranglah yang akan menunjukkan seberapa dalamnya cara pandang dan sikap hidup individu. Oleh karenanya mengapa individu satu dengan individu yang lain mempunyai banyak perbedaan dalam cara memandang dan mensikapi sesuatu hal. Karena pada kenyataannya, pengalaman hidup seseorang tidaklah sama. Semakin banyak peristiwa yang dialami oleh individu, semakin membuat individu tersebut membuka diri dan belajar memahami peristiwa demi peristiwa, karenanya pula cara pandang individu terhadap sesuatu hal akan terus berubah. Baik cara pandang maupun sikap hidup, keduanya akan selalu berbanding lurus perkembangannya terhadap pengalaman hidup.

Namun, saya pun menyadari bahwa pernyataan saya diatas tidaklah seratus persen merupakan sebuah kebenaran. Masih banyak factor yang membuat diri seseorang menjadi tidak berkembang. Ada sebagian individu yang walaupun telah mengalami begitu banyak peristiwa dan pengalaman hidup, baik menyakitkan; mengecewakan; dan membahagiakan, tidak mampu memberikan perubahan yang signifikan terhadap cara pandang dan sikap hidup dalam dirinya. Bahkan mungkin bisa saja dalam kondisi demikian, pengalaman dan peristiwa hidup seseorang akan berbanding terbalik dengan cara pandang dan sikap hidup. Jika ada seorang individu saja mengajukan pertanyaan kepada saya, kenapa hal tersebut dapat terjadi? Saya sendiri akan mengerutkan kening dan berfikir sejenak. Mengapa ya?

Pertanyaan demikian membuat saya bersepekulasi, mengira-ira jawabannya. Bisa jadi memang karena individu tersebut menolak belajar memahami suatu peristiwa dalam hidupnya karena individu seperti ini merasa nyaman dengan keadaan dirinya baik keadaan fisik maupun psikisnya. Mekanisme mempertahankan diri pada titik nyaman dalam perkembangan jiwanya. Sehingga ketika terjadi suatu peristiwa dalam kehidupannya, rata-rata individu seperti ini akan mencari kenyamanan dengan mempertahankan kondisi psikis dan sikapnya. Karena kenyamanan inilah kecenderungan yang muncul adalah mencari dukungan akan cara pandang dan sikap yang dipertahankannya kepada pihak lain, sehingga kondisi nyaman tersebut dapat tetap tertahankan, tanpa harus merubah cara pandang dan sikap yang cenderung menyakiti.

Kemungkinan lainnya adalah keengganan serta rasa takut akan perasaan sakit, kecewa atau terlalu euphoria dengan sebuah peristiwa membahagiakan. Individu terutama manusia akan cenderung mempertahankan diri ataupun melindungi dirinya dari perasaan tidak menyenangkan. Kemampuan mekanisme pertahanan diri yang sangat alamiah. Hal tersebut membuat diri individu memproteksi dirinya, baik secara psikis maupun fisik, terhadap peristiwa tersebut. Perasaan takut terluka, takut sedih, merasa teraniaya, merasa tidak ikhlas, ataupun energi-energi negative lainnya tersebut yang sebenarnya membuat diri individu menjadi tidak memahami mengapa peristiwa-peristiwa tersebut dialami. Atau suatu keadaan nyaman, membahagiakan dan menyenangkan, dapat membuat individu merasa enggan berlalu dari peristiwa menyenangkan tersebut. Euphoria perasaan bahagia yang membuat individu merasa takut kehilangan, takut kesepian, ataupun takut tersakiti. Energi-energi positif yang dirasakan secara berlebihan pun mampu membuat individu tersebut tidak berkembang. Jiwa dan alam pikirnya menjadi stagnan. Padahal kedua dimensi tersebut merupakan dimensi yang dinamis. Selalu berkembang seiring dengan peristiwa dan pengalaman hidup seorang individu.

Dengan adanya kenyataan seperti tersebut diatas membuat saya selalu membangkitkan kesadaran saya sepenuhnya, bahwa setiap orang memandang sesuatu kemudian memunculkan sikapnya terhadap sesuatu tersebut dengan cara dan pola yang berbeda-beda. Tidak pernah ada sebuah hal yang objektif, karena sesungguhnya keobjektifan itu bersifat tidak pasti. Dan kalau boleh berandai-andai, saya selalu membayangkan bertemu dengan sekelompok besar individu yang memandang sesuatu peristiwa dengan bijak. Merenungkan setiap kejadian dan menginternalkan ke dalam dirinya. Berbicara dengan diri sendiri. Mencoba menelaah setiap perkataan dan sikap hidupnya terhadap peristiwa yang telah dilalui, kemudian memberikan setidaknya sedikit perubahan cara pandang dan sikap hidupnya terhadap kenyataan. Lebih memberikan tanggung jawab terhadap keputusan yang sudah, telah dan akan diambil oleh diri individu tersebut. Menyadari bahwa hidup adalah sebuah konsekuensi dari perilaku, perkataan dan merupakan sebuah hubungan sebab-akibat. Bukan membebani diri dengan peristiwa yang telah terjadi, dan merasa khawatir dengan peristiwa yang akan terjadi.

Namun, kenyataan akan selalu membuat saya sepenuhnya meningkatkan kesadaran diri. Menempa saya untuk semakin memahami sebuah hal baik itu peristiwa maupun individu-individu lain. Membuat saya semakin menyadari banyak hal. Bahwa kenyataan akan selalu membuat saya untuk terus belajar mengembangkan jiwa dan pikiran saya. Membuat saya untuk selalu bersikap dengan baik. Kenyataan bahwa ada sebagian orang yang akan selalu berkutat pada masa lalu, ada sebagian lagi yang merupakan pribadi yang sulit membuka diri, atau sebagian lainnya yang akan memilih terus belajar mencari makna dan nilai dalam kehidupannya membuat saya terus belajar banyak hal terhadap mereka. Serta akan selalu muncul berbagai macam sikap-sikap hidup yang berbeda atau berseberangan dengan diri saya. Saya pun sepenuhnya menyadari bahwa mungkin sikap hidup dan cara pandang beberapa individu akan selalu bersinggungan dengan saya sepanjang saya masih hidup, dan mungkin saja mengusik diri saya, namun saya selalu berusaha untuk memahaminya sebagai proses perkembangan jiwa saya. Sebagai sebuah peristiwa dan individu yang akan mengajarkan pada jiwa saya cara untuk bersikap dan memandang dengan lebih baik dari hari ini. Bagi saya ini semua adalah proses penyembuhan jiwa, dari yang perasaan terluka menjadi sembuh, dari perasaan kecewa jadi perasaan menerima, dari perasaan ketidakikhlasan menjadi perasaan pasrah, dari perasaan terusik menjadi perasaan nyaman, dan dari sebuah perasaan ketidakpercayaan menjadi perasaan percaya dan yakin. Kenyataan membuat saya selalu sadar bahwa kehidupan, baik itu peristiwanya maupun inddividu-individu yang terlibat didalamnya, merupakan guru yang mengajarkan saya untuk belajar lebih baik dan baik lagi. Saya ingin memaknai dan mengambil nilai-nilai sebuah peristiwa kehidupan dengan lebih mendalam lagi, karena semua ini adalah sebuah proses perkembangan dan perjalanan jiwa saya dan juga merupakan proses penyembuhan jiwa bagi saya, membuat saya menjadi lebih matang dan lebih membumi baik dalam sikap, cara pandang, cara berbicara dan segala elemen diri saya, karena saya ingin menjadi seseorang yang lebih down to earth dari yang sekarang dan menjadikan saya memiliki sikap hidup yang lebih arif. Karena Ini adalah cara saya untuk membawa diri saya tetap hidup.

bring me to life

selasa, 8 november 2011

jam 8:57 malam

Ini adalah masalah cara pandang dan sikap hidup. cara individu memandang peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya dan mewujudkannya kedalam sikap-sikap hidup. Pengalaman hidup seseoranglah yang akan menunjukkan seberapa dalamnya cara pandang dan sikap hidup individu. Oleh karenanya mengapa individu satu dengan individu yang lain mempunyai banyak perbedaan dalam cara memandang dan mensikapi sesuatu hal. Karena pada kenyataannya, pengalaman hidup seseorang tidaklah sama. Semakin banyak peristiwa yang dialami oleh individu, semakin membuat individu tersebut membuka diri dan belajar memahami peristiwa demi peristiwa, karenanya pula cara pandang individu terhadap sesuatu hal akan terus berubah. Baik cara pandang maupun sikap hidup, keduanya akan selalu berbanding lurus perkembangannya terhadap pengalaman hidup.

Namun, saya pun menyadari bahwa pernyataan saya diatas tidaklah seratus persen merupakan sebuah kebenaran. Masih banyak factor yang membuat diri seseorang menjadi tidak berkembang. Ada sebagian individu yang walaupun telah mengalami begitu banyak peristiwa dan pengalaman hidup, baik menyakitkan; mengecewakan; dan membahagiakan, tidak mampu memberikan perubahan yang signifikan terhadap cara pandang dan sikap hidup dalam dirinya. Bahkan mungkin bisa saja dalam kondisi demikian, pengalaman dan peristiwa hidup seseorang akan berbanding terbalik dengan cara pandang dan sikap hidup. Jika ada seorang individu saja mengajukan pertanyaan kepada saya, kenapa hal tersebut dapat terjadi? Saya sendiri akan mengerutkan kening dan berfikir sejenak. Mengapa ya?

Pertanyaan demikian membuat saya bersepekulasi, mengira-ira jawabannya. Bisa jadi memang karena individu tersebut menolak belajar memahami suatu peristiwa dalam hidupnya karena individu seperti ini merasa nyaman dengan keadaan dirinya baik keadaan fisik maupun psikisnya. Mekanisme mempertahankan diri pada titik nyaman dalam perkembangan jiwanya. Sehingga ketika terjadi suatu peristiwa dalam kehidupannya, rata-rata individu seperti ini akan mencari kenyamanan dengan mempertahankan kondisi psikis dan sikapnya. Karena kenyamanan inilah kecenderungan yang muncul adalah mencari dukungan akan cara pandang dan sikap yang dipertahankannya kepada pihak lain, sehingga kondisi nyaman tersebut dapat tetap tertahankan, tanpa harus merubah cara pandang dan sikap yang cenderung menyakiti.

Kemungkinan lainnya adalah keengganan serta rasa takut akan perasaan sakit, kecewa atau terlalu euphoria dengan sebuah peristiwa membahagiakan. Individu terutama manusia akan cenderung mempertahankan diri ataupun melindungi dirinya dari perasaan tidak menyenangkan. Kemampuan mekanisme pertahanan diri yang sangat alamiah. Hal tersebut membuat diri individu memproteksi dirinya, baik secara psikis maupun fisik, terhadap peristiwa tersebut. Perasaan takut terluka, takut sedih, merasa teraniaya, merasa tidak ikhlas, ataupun energi-energi negative lainnya tersebut yang sebenarnya membuat diri individu menjadi tidak memahami mengapa peristiwa-peristiwa tersebut dialami. Atau suatu keadaan nyaman, membahagiakan dan menyenangkan, dapat membuat individu merasa enggan berlalu dari peristiwa menyenangkan tersebut. Euphoria perasaan bahagia yang membuat individu merasa takut kehilangan, takut kesepian, ataupun takut tersakiti. Energi-energi positif yang dirasakan secara berlebihan pun mampu membuat individu tersebut tidak berkembang. Jiwa dan alam pikirnya menjadi stagnan. Padahal kedua dimensi tersebut merupakan dimensi yang dinamis. Selalu berkembang seiring dengan peristiwa dan pengalaman hidup seorang individu.

Dengan adanya kenyataan seperti tersebut diatas membuat saya selalu membangkitkan kesadaran saya sepenuhnya, bahwa setiap orang memandang sesuatu kemudian memunculkan sikapnya terhadap sesuatu tersebut dengan cara dan pola yang berbeda-beda. Tidak pernah ada sebuah hal yang objektif, karena sesungguhnya keobjektifan itu bersifat tidak pasti. Dan kalau boleh berandai-andai, saya selalu membayangkan bertemu dengan sekelompok besar individu yang memandang sesuatu peristiwa dengan bijak. Merenungkan setiap kejadian dan menginternalkan ke dalam dirinya. Berbicara dengan diri sendiri. Mencoba menelaah setiap perkataan dan sikap hidupnya terhadap peristiwa yang telah dilalui, kemudian memberikan setidaknya sedikit perubahan cara pandang dan sikap hidupnya terhadap kenyataan. Lebih memberikan tanggung jawab terhadap keputusan yang sudah, telah dan akan diambil oleh diri individu tersebut. Menyadari bahwa hidup adalah sebuah konsekuensi dari perilaku, perkataan dan merupakan sebuah hubungan sebab-akibat. Bukan membebani diri dengan peristiwa yang telah terjadi, dan merasa khawatir dengan peristiwa yang akan terjadi.

Namun, kenyataan akan selalu membuat saya sepenuhnya meningkatkan kesadaran diri. Menempa saya untuk semakin memahami sebuah hal baik itu peristiwa maupun individu-individu lain. Membuat saya semakin menyadari banyak hal. Bahwa kenyataan akan selalu membuat saya untuk terus belajar mengembangkan jiwa dan pikiran saya. Membuat saya untuk selalu bersikap dengan baik. Kenyataan bahwa ada sebagian orang yang akan selalu berkutat pada masa lalu, ada sebagian lagi yang merupakan pribadi yang sulit membuka diri, atau sebagian lainnya yang akan memilih terus belajar mencari makna dan nilai dalam kehidupannya membuat saya terus belajar banyak hal terhadap mereka. Serta akan selalu muncul berbagai macam sikap-sikap hidup yang berbeda atau berseberangan dengan diri saya. Saya pun sepenuhnya menyadari bahwa mungkin sikap hidup dan cara pandang beberapa individu akan selalu bersinggungan dengan saya sepanjang saya masih hidup, dan mungkin saja mengusik diri saya, namun saya selalu berusaha untuk memahaminya sebagai proses perkembangan jiwa saya. Sebagai sebuah peristiwa dan individu yang akan mengajarkan pada jiwa saya cara untuk bersikap dan memandang dengan lebih baik dari hari ini. Bagi saya ini semua adalah proses penyembuhan jiwa, dari yang perasaan terluka menjadi sembuh, dari perasaan kecewa jadi perasaan menerima, dari perasaan ketidakikhlasan menjadi perasaan pasrah, dari perasaan terusik menjadi perasaan nyaman, dan dari sebuah perasaan ketidakpercayaan menjadi perasaan percaya dan yakin. Kenyataan membuat saya selalu sadar bahwa kehidupan, baik itu peristiwanya maupun inddividu-individu yang terlibat didalamnya, merupakan guru yang mengajarkan saya untuk belajar lebih baik dan baik lagi. Saya ingin memaknai dan mengambil nilai-nilai sebuah peristiwa kehidupan dengan lebih mendalam lagi, karena semua ini adalah sebuah proses perkembangan dan perjalanan jiwa saya dan juga merupakan proses penyembuhan jiwa bagi saya, membuat saya menjadi lebih matang dan lebih membumi baik dalam sikap, cara pandang, cara berbicara dan segala elemen diri saya, karena saya ingin menjadi seseorang yang lebih down to earth dari yang sekarang dan menjadikan saya memiliki sikap hidup yang lebih arif. Karena Ini adalah cara saya untuk membawa diri saya tetap hidup.

here and now

Sunday, November 06, 2011

9:50 pm

Kembali, mencoba mengajak jiwa saya berbicara. Menanamkan sebuah pelajaran hidup baru. Sebuah kesadaran akan hidup dimasa ini atau istilah kerennya adalah here and now, serta pemahaman bahwa setiap individu di dunia ini selalu berubah, istilah jawanya ‘esok dele sore tempe’ menuju ke penerimaan diri seutuhnya.

Saya mencoba meresapi dan merenungi kata-kata tersebut dengan hati dan pikiran saya. Berdialog dengan jiwa saya sendiri. Mencoba mencari sejauh apakah perjalanan jiwa saya ini. Apakah saya telah berada dalam keadaan here and now sehingga saya telah menerima segala sesuatu yang ada dalam lingkungan saya baik itu keberadaan individu lain maupun peristiwa hidup yang saya alami. Kemudian saya menjadi tersadar bahwa ada bagian dari diri saya yang menolak untuk melakukan hal tersebut. Saya benar-benar berada dalam situasi terbatasi dengan jiwa saya yang lain. Seolah saya menjadi tidak utuh. Saya bukan pribadi yang utuh dan medan energi yang mengelilingi saya tidak memberikan pengaruh positif terhadap perilaku yang tampak. Padahal, sebenarnya medan energy yang mengelilingi diri kita dapat mempengaruhi perubahan perilaku ketika kita mencapai tahapan pemahaman diri yang tinggi.

Saya terus berusaha memilah, dimana letak kesalahan atau kanker yang harus saya potong dalam diri saya. Mencoba mencari dan mencari keberadaan ketidakseimbangan pemahaman diri kemudian mencoba meluruskan kembali. Setelah sekian hari, sekian jam dan sekian menit saya mencoba menelaah diri, saya menemukan penyakit yang seharusnya saya pangkas sejak dulu. Saya berada pada masa ketidakpercayaan serta kekecewaan akan masa lalu dan perilaku beberapa individu sekeliling saya. Kemudian saya menelaah lebih dalam lagi, melihat kedalam hati dan perasaan saya, dan disana saya menemukan kekecewaan dan trauma pada beberapa peristiwa. Hal ini membuat diri saya membangun beberapa mekanisme pertahanan diri yang tidak efektif bahkan bisa dibilang tidak baik, serta membangun beberapa karakter yang kiranya mampu mempertahankan mekanisme pertahanan diri saya tersebut. Bayangkan, dalam beberapa tahun terakhir ini saya hidup dalam arogansi, ketidakpercayaan, kekecewaan dan perasaan-perasaan negative lainnya. Sayapun terus-terusan menanamkan dalam kesadaran saya, bahwa semua ini harus berubah dan hal ini membutuhkan kemauan dan kerja keras dari diri saya, dan akhirnya saya pun memutuskan untuk memperbaiki semuanya.

Sekarang, saat ini, saya sedang berbicara dengan jiwa saya, bahwa perubahan tersebut dibutuhkan dan jika saya berhasil, hal ini akan mempengaruhi tingkat kesadaran saya akan sebuah kehidupan. Here and now. Sebuah kalimat yang sebenarnya sederhana namun bagi saya tidaklah sesederhana sebuah pepatah ataupun sesederhana tulisan dalam sebuah kartu ucapan. Here and now, hidup disaat ini, tanpa merasa terbebani akan masa lalu ataupun terganggu dengan kekhawatiran masa depan. Benar-benar hidup untuk saat ini. Menanamkan kesadaran hidup untuk saat ini, dimana diri kita dan setiap orang yang akan kita temui akan selalu berubah dengan cepat dan menerimanya dengan ikhlas.

Memang saya akui, proses tersebut harus dilalui dengan panjang dan sakit. Justru, tanpa kita sadari rasa sakit, luka bahkan orang-orang yang menyakiti kitalah yang sebenarnya sangat berperan membentuk pribadi dan karakter kita. Membangun sesuatu dalam diri kita, mencapai sebuah pemahaman baru, asalkan kita mau meresapi dan merenungi segala yang telah kita alami. Disini, didalam hati ini, segalanya berproses, entah itu kearah kebaikan ataupun keburukan. Tergantung individu tersebut membawa jiwanya dan belajar mengembangkan jiwa yang seperti apa. Penerimaan yang utuhlah yang nantinya akan membawa diri kita pada kesadaran akan hidup. kehidupan yang dinamis tanpa merasa terbebani dan terbataskan. Bagi saya saat tersebut merupakan saat ketika individu mencapai masa kesadaran penuh, dan ini pasti diraih oleh individu dengan pelajaran-pelajaran hidup yang berharga dan ia mampu menelaah dan mengintegritaskan semua hal positif kedalam jiwanya, dan saya sedang berusaha belajar menuju ke kesadaran hidup yang sepenuhnya. Here and now.

ada apa denganmu

saya. entah beberapa hari terakhir ini menjadi begitu emosional.menjadi begitu mudah marah dan tersinggung.entah mengapa kontrol diri dan emosi saya menjadi begitu longgar,bahkan bisa saya bilang sampai pada titik terendah. kondisi psikis yang jarang saya alami.


lama saya berfikir, menelaah dan merenungkan mengapa saya menjadi begitu sentimentil. mungkin benar saya belum betul-betul melakukan penerimaan pada sesuatu hal maupun terhadap individu lainnya. sehingga saya terlalu berekspektasi berlebihan. saya mungkin menjadi frustasi dengan keadaan yang stagnan atau mungkin karenA begitu banyak energi yang terpendam sehingga malah berakibat negatif terhadap psikis saya.


rasa frustasi saya semakin menjadi ketika saya gagal memberikan pemahaman kepada diri saya sendiri,bahwa setiap individu merupakan sesuatu yang bergerak kearah positif atau negatif. dan merupakan suatu konsekuensi yang harus saya terima ketika saya berada dalam sebuah lingkungan sosial,baik dirumah maupun ditempat kerja.


nah...sampai disini saya pun mulai menyadari bahwa saya terlalu banyak melepaskan ego saya..kemudian menabrakan ego saya tersebut kepada individu lain.jujur saya akui,saya merasa jengah dan tidak sabar dengan berapa perilaku yang saya temui. sikap diam yang selama ini saya terapkan semakin tidak menguntungkan saya. masalah yang ditimbulkan pihak lain masih saja menarik diri saya terlibat didalamnya.kejengahan dan keengganan inilah yang membuat saya menjadi lepas kendali. menjadi emosional, sentimentil dan berkomentar pedas.


ya..inilah kesalahan saya.terlalu menggumbar emosi saya. sehariusnya saya menjadi lebih bijak dalam bersikap. saya harusnya lebih memahami makna dibalik peristiwa beberapa hari ini. bahwa mungkin tuhan sedang mengirimkan pesanNya kepada saya. dan tenyata saya luput untuk memahami pesan kehidupan ini. benar, lebih baik terlambat daripada tidak samasekali. bahwa saya mungkin memang terlambat memahami, namun semua ini menyadarkan saya bahwa kesabaran tidak pernah ada habisnya. semoga dengan segala hal yang terjadi ini mampu membuat saya menjadi lebih baik dan kuat. dan saya pun belajar banyak hal, bahwa penerimaan itu seperti sebuah obat pil pahit yang mau tak mau harus ditelan supaya menjadi diri yang lebih sehat dan baik.semoga.


Published with Blogger-droid v2.0.1

Minggu, 30 Oktober 2011

gisya in action




Jumat, 14 oktober 2011

Bianglala playgroup class

(anak-anak sedang duduk rapi mendengarkan yanda. Yanda menjelaskan tentang makanan halal dan haram sambil menunjukkan gambar-gambar)

Plok….

“huaaaaaa…..huaaaaa….gisya nakal…huaaaa…”

Ku toleh kearah samping ruangan, Aura menangis kencang setelah kalah berebut kursi dengan Gisya.

“Gisya, kursinya punya Aura, ayo Gisya cari kursi yang lain”

Gisya tersenyum jahil sambil melongos pergi. Anak-anak yang lain masih memperhatikan yanda menjelaskan.

“ya..Gisya ayo maju kedepan tunjuk gambarnya”

Dengan semangat Gisya maju kedepan. Dalam hati saya membatin pasti anak itu akan melakukan kejahilan lagi.

“ayo Gisya, mana makanan yang enggak boleh dimakan?” tanya yanda pada Gisya.

Gisya berjalan menunjukkan gambar bebek dan ayam dengan senyuman jahil dan menggoda yanda.

“udah… Gisya mundur..Gisya tadi enggak mendengarkan yanda kok, ganti nabil” kata yanda dan gisya pun mundur meninggalkan yanda.

Srekkkkk…..sreekkkk….sreekkk…..

Suara yang membuat focus saya teralihkan (masih memangku aura yang menangis dan ngambek). Ternyata Gisya menemukan kardus yang saya sembunyikan dibawah meja. Saya perhatikan apa yang akan dilakukan Gisya dengan kardus tersebut. Sedikit penasaran dan sekaligus ingin menegur anak ini karena tidak mau duduk dengan tenang dikursi, sedangkan teman-temannya masih memperhatikan yanda bercerita.

Gisya berhenti menyeret kardus besar itu tepat didepan tempat duduk saya dan Aura, lalu Gisya masuk kedalam kardus tersebut dan menutup tutup kardusnya. Saya menahan tawa melihat tingkah polahnya yang kreatif sekaligus lucu. Bayangkan, kardus sebesar itu dimasukinya kemudian ditutupnya, yang terlihat tinggal kepalanya yang nyembul-nyembul karena berusaha ditutupi supaya seluruh badannya tak kelihatan.

“ngapain Gisya?” tanyaku kepadanya sambil menahan tawa

“ngumpet bunda, tolong ditutupin biar Gisya enggak kelihatan” katanya sambil berusaha menyembunyikan kepalanya.

Weeekkkkkk…..

Sebagian kaki dan badannya keluar dari kardus tersebut karena kardusnya robek tak kuat menahan badan dan gerakan-gerakan Gisya. Dengan polosnya Gisya tertawa kepada saya dan Aura…kontan kami berdua pun tertawa melihat tingkah Gisya saat itu.

(masih ditengah-tengah pelajaran agama)

Kali ini Gisya sudah bersedia duduk tenang dikursinya mendengarkan Yanda. Yanda pun memperlihatkan beberapa gambar hewan kepada anak-anak.

“ini gambar apa Abi?” tanya yanda pada anak-anak

“ayam yanda!!!!” teriak anak-anak

“nah,kalau ini gambar apa ya?” tanya yanda lagi kepada anak-anak

“ular yanda…” jawab anak-anak

“yandaaa…yandaaaa…” panggil Gisya, dan yanda pun menoleh kearah Gisya “cacing yanda” kata Gisya setelah yanda menoleh sambil menunjuk ke gambar ular yang dibawa yanda.

Rabu, 19 Oktober 2011

life is a song that we choice




October, 10.2011
6:30 pm
Living room

Hari ini, disini, ditempat saya bekerja ini, saya belajar membesarkan hati. Belajar menyabarkan diri. Belajar menata emosi. Belajar untuk berpikir dengan bijak. Saya benar-benar belajar untuk menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Lebih bijaksana dalam bertindak dan berucap. Lebih bijaksana dalam memahami setiap hal. Mencoba mencerna segala sesuatunya dengan seimbang dan sesuai dengan porsinya. Saya, berusaha menjadikan diri saya menjadi lebih arif dalam mensikapi setiap hal. Berusaha memilah, mencerna dan merenungkan setiap masalah yang datang, baik itu yang saya hadapi ataupun orang lain alami. Karena, bagi saya, kebijaksanaan hidup tidak hanya datang dari pemahaman diri, tetapi juga pelajaran yang kita petik dari orang lain. Saya, tak ingin lagi menjadi begitu arogan, menjadi begitu egois, menjadi begitu emosional dan menjadi begitu naïf lagi dalam memandang sesuatu hal. Disana, diluar diri kita, banyak hal yang harus disikapi dengan bijak, ditanggapi dengan lebih arif, dan berfikir lebih terbuka.

Saya, juga menanamkan kedalam kesadaran saya, bahwa tak ada yang sempurna didunia ini. Setiap manusia pasti akan selalu melakukan kesalahan. Setiap kesalahan itulah yang sesungguhnya akan membentuk pribadinya. Menunjukkan bagaimana caranya berfikir, caranya bersikap dan caranya mensikapi keadaan. Dan inilah yang selalu saya anggap sebagai kedewasaan. Dewasa yang bukan melulu soal seberapa banyak umur yang kita miliki, namun soal bagaimana kita bersikap dan mensikapi sesuatu hal termasuk keberadaan orang lain disekitar kita. Kedewasaan bukanlah hal yang stagnan, dia selalu berkembang dan berkembang seiring dengan kehidupan manusia. Inilah yang selalu saya sadari, bahwa saya belum mencapai kata dewasa, bahwa saya akan selalu melakukan kesalahan-kesalahan, bahwa saya akan terus banyak belajar, belajar untuk menjadi lebih dewasa, belajar untuk berusaha bersikap arif, dan belajar untuk menggunakan akal, pikiran, perasaan dan hati sesuai dengan porsinya, karena ini adalah hidup, untuk terus belajar dan belajar. karena hidup juga seperti barisan lagu yang telah dan akan kita pilih.